Selasa, 02 April 2013



PONDOK PESANTREN
1. Latar Belakang Sejarah Pondok Pesantren.
Pesantren adalah merupakan lembaga pendidikan Islam tertua yang tumbuh serta diakui oleh masyarakat sekitar dengan sistem asrama yang santri-santrinya berada dibawah kedaulatan dan kepemimpinan seorang atau beberapa orang kiai dengan ciri khas kharismatiknya dan dan bersifat independent dalam segala hal.
Ziemek ( dalam Wahjoetomo, 1997 : 70 ) menyebutkan bahwa pondok berasal dari bahasa Arab Funduq yang berarti ruang tidur atau wisma sederhana, oleh karenanya memang pondok merupakan tempat penampungan sederhana bagi para pelajart ( santri ) yang jauh dari tempat asalnya. Sedangkan pesantren berasal dari kata santri yang mendapat awalan pe- dan akhiran –an yang berarti menunjukkan tempat, maka artinya adalah “ tempat para santri “. Terkadang juga dianggap sebagai gabungan kata sant ( manusia baik ) dengan suku kata tra ( suka menolong ), sehingga pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia baik-baik.
Sedangkan menurut Geertz ( dalam Wahjoetomo, 1997 : 70 ), istilah dan pengertian pesantren diturunkan dari bahasa India Shastri yang berarti ilmuwan Hindu yang mahir dan pandai menulis. Maksudnya, pesantren adalah tempat bagi orang-orang yang pandai membaca dan menulis. Geertz menganggap pesantren dimodifikasi dari pura Hindu.
Wahjoetomo ( 1997 : 65 ) mengatakan bahwa pesantren adalah suatu bentuk lingkungan “ masyarakat “ yang unik dan memiliki tata nilai kehidupan yang positif. Pada umumnya, pesantren terpisah dari kehidupan sekitarnya. Komplek pesatren minimal terdiri atas kediaman kiai atau pengasuh ( ndalem ), masjid, mushalla atau aula dan asrama santri.
Tidak banyak referensi yang menjelaskan tentang kapan pesantren pertama kali berdiri dan bagaimana perkembangannya pada zaman permulaan. Menurut Muhaimin & Mujib ( 1993 : 298 ) pendidikan ala pesantren berawal dari kehadiran kerajaan Bani Umayyah yang menjadikan pesatnya pertumbuhan ilmu pengetahuan, sehingga anak-anak masyarakat Islam ( pada waktu itu ) tidak hanya belajar di masjid, tetapi juga pada lembaga-lembaga lain, yaitu “kuttab” ( = pondok pesantren ). Kuttab ini dengan karakteristik khasnya, merupakan wahana dan lembaga pendidikan Islam yang yang semula sebagai lembaga baca dan tulis dengan sistem halaqoh ( sorogan ).
Di Indonesia, istilah pesantren mempunyai arti suatu lembaga pendidikan Islam yang di dalamnya terdapat seorang kiai ( pendidik ), santri ( terdidik ) dengan sarana masjid yang digunakan untuk menyelenggarakan pendidikan tersebut, serta di dukung dengan adanya pondok atau asrama sebagai tempat tinggal para santri.
Awal pendirian pesantren di Indonesia ( khususnya di Jawa ) terkait dengan penyebaran Islam oleh Wali Songo, maka model pesantren di pulau Jawa mulai berdiri dan berkembang bersamaan dengan zaman Wali Songo. Karena itu, tidak berlebihan jika di katakan bahwa pondok pesantren pertama kali ( di Indonesia, khususnya di tanah Jawa ) didirikan oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim atau Syekh Maulana Maghribi dan dikenal juga sebagai Sunan Gresik. Beliau adalah orang yang pertama kali dari sembilan wali yang terkenal dalam penyebaran Islam di Jawa. Meskipun begitu, tokoh yang dianggap berhasil mendirikan dan mengembangkan pondok pesantren dalam arti yang sesungguhnya adalah Raden Rahmat, beliau mendirikan pesantren di Kembang Kuning yang pada waktu itu hanya memiliki tiga orang santri. Kemudian beliau pindah ke Ampeldenta ( Surabaya ) dan juga mendirikan pesantren di sana. Akhirnya beliau dikenal dengan sebutan Sunan Ampel. Misi keagamaan dan pendidikan yang dibawa oleh Sunan Ampel pada akhirnya mencapai sukses, sehingga sangat dikenal oleh masyarakat Majapahit. Kemudian bermunculan pesantren-pesantren baru yang didirikan oleh para santri dan putra-putra beliau, misalnya pesantren Giri oleh Sunan Giri, pesantren Demak Bintoro oleh Raden Fatah dan pesantren Bonang oleh Sunan Bonang ( Wahjoetomo, 1997 : 71 ).
Kedudukan dan fungsi pesantren saat itu belum sebesar dan se-kompleks sekarang. Pada masa awal, pesantren hanya berfungsi sebagai alat Islamisasi yang sekaligus memadukan tiga unsur pendidikan, yaitu ibadah untuk menanamkan iman, tabligh untuk penyebaran ilmu dan amal untuk mewujudkan kegiatan kemasyarakatan dalam kehidupan sehari-hari.
Sejak negara kita dijajah oleh orang-orang imperialis Barat, pesantren menjadi satu-satunya lembaga pendidikan Islam yang menggembleng kader-kader umat yang tangguh dan gigih mengembangkan agama dan menentang penjajahan dengan jiwa keislaman yang ada pada dada mereka. Jadi, dalam pesantren juga tertanam patriotisme disamping fanatisme agama yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat pada masa itu.